↑ Return to MATH.MANIA

MAKALAH

 

MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Telaah Kurikulum Matematika

Dosen Pengampu: Eko Andi Purnomo, S.Pd

Disusun Oleh:

Dwi Puspa Nurma D.         (I2A010006)

Slamet Sariyanto                (I2A010018)

 

PENDIDIKAN MATEMATIKA

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

(UNIMUS)

2011

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari variabel pokok yang saling berkaitan yaitu kurikulum, pendidik, pembelajaran,dan peserta didik. Pada dasarnya semua komponen ini bertujuan untuk kepentingan peserta didik. Berdasarkan hal tersebut pendidik dituntut agar mampu menggunakan berbagai model pembelajaran agar peserta didik dapat melakukan  kegiatan belajar. Hal ini dilatarbelakangi bahwa peserta didik bukan hanya sebagai objek tetapi juga sebagai subjek pembelajaran. Peserta didik harus disiapkan sejak awal  untuk mampu bersosialisasi dengan lingkungannya sehingga berbagai jenis model pembelajaran dapat digunakan oleh peserta didik. Model-model pembelajaran sosial merupakan pendekatan pembelajaran yang digunakan di kelas yang melibatkan peserta didik secara penuh sehingga peserta didik memperoleh pengalaman dalam menuju kedewasaan , kemandirian dan belajar dari lingkungan kehidupan.

Mata pelajaran perlu diberikan kepada semua peserta didik untuk membekali mereka dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Dalam pembelajaran apabila guru masih menggunakan paradigma pembelajaran lama dalam arti komunikasi dalam pembelajaran cenderung berlangsung satu arah umumnya dari guru ke siswa, guru lebih mendominasi pembelajaran maka pembelajaran cenderung monoton sehingga mengakibatkan peserta didik merasa jenuh dan tersiksa. Oleh karena itu dalam membelajarkan kepada siswa, guru hendaknya lebih memilih berbagai variasi pendekatan, strategi, metode yang sesuai dengan situasi sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan akan tercapai. Perlu diketahui bahwa baik atau tidaknya suatu pemilihan model pembelajaran akan tergantung tujuan pembelajarannya, kesesuaian dengan materi pembelajaran, tingkat perkembangan peserta didik, kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran serta mengoptimalkan sumber-sumber belajar yang ada.

 

BAB II
PEMBAHASAN

Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1) pendekatan pembelajaran, (2) strategi pembelajaran, (3) metode pembelajaran; (4) teknik pembelajaran; (5) taktik pembelajaran; dan (6) model pembelajaran. Berikut ini akan dipaparkan istilah-istilah tersebut, dengan harapan dapat memberikan kejelasaan tentang penggunaan istilah tersebut.

Pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginsiprasi, menguatkan, dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Dilihat dari pendekatannya, pembelajaran terdapat dua jenis pendekatan, yaitu: (1) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada siswa (student centered approach) dan (2) pendekatan pembelajaran yang berorientasi atau berpusat pada guru (teacher centered approach).

Dari pendekatan pembelajaran yang telah ditetapkan selanjutnya diturunkan ke dalam strategi pembelajaran. Newman dan Logan (Abin Syamsuddin Makmun, 2003) mengemukakan empat unsur strategi dari setiap usaha, yaitu :

  1. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kualifikasi hasil (out put) dan sasaran (target) yang harus dicapai, dengan mempertimbangkan aspirasi dan selera masyarakat yang memerlukannya.
  2. Mempertimbangkan dan memilih jalan pendekatan utama (basic way) yang paling efektif untuk mencapai sasaran.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah (steps) yang akan dtempuh sejak titik awal sampai dengan sasaran.
  4. Mempertimbangkan dan menetapkan tolok ukur (criteria) dan patokan ukuran (standard) untuk mengukur dan menilai taraf keberhasilan (achievement) usaha.

Jika kita terapkan dalam konteks pembelajaran, keempat unsur tersebut adalah:

  1. Menetapkan spesifikasi dan kualifikasi tujuan pembelajaran yakni perubahan profil perilaku dan pribadi peserta didik.
  2. Mempertimbangkan dan memilih sistem pendekatan pembelajaran yang dipandang paling efektif.
  3. Mempertimbangkan dan menetapkan langkah-langkah atau prosedur, metode dan teknik pembelajaran.
  4. Menetapkan norma-norma dan batas minimum ukuran keberhasilan atau kriteria dan ukuran baku keberhasilan.

Sementara itu, Kemp (Wina Senjaya, 2008) mengemukakan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya, pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina Senjaya, 2008). Ditinjau dari cara penyajian dan cara pengolahannya, strategi pembelajaran dapat dibedakan antara strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif.

Strategi pembelajaran sifatnya masih konseptual dan untuk mengimplementasikannya digunakan berbagai metode pembelajaran tertentu. Dengan kata lain, strategi merupakan “a plan of operation achieving something” sedangkan metode adalah “a way in achieving something” (Wina Senjaya (2008)). Jadi, metode pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2) demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.

Selanjutnya metode pembelajaran dijabarkan ke dalam teknik dan gaya pembelajaran. Dengan demikian, teknik pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik. Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas. Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun dalam koridor metode yang sama.

Sementara taktik pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya, yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan, pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan. Apabila antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran sudah terangkai menjadi satu kesatuan yang utuh maka terbentuklah apa yang disebut dengan model pembelajaran. Jadi, model pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.

Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.

Untuk lebih jelasnya, posisi hierarkis dari masing-masing istilah tersebut, kiranya dapat divisualisasikan sebagai berikut:

 

II.i. Metode Pembelajaran Efektif

Belajar atau pembelajaran adalah merupakan sebuah kegiatan yang wajib pendidik lakukan dan berikan kepada peserta didik. Karena mereka merupakan kunci sukses untuk menggapai masa depan yang cerah, mempersiapkan generasi bangsa dengan wawasan ilmu pengetahuan yang tinggi. Yang pada akhirnya akan berguna bagi bangsa, negara, dan agama. Melihat peran yang begitu vital, maka menerapkan metode yang efektif dan efisien adalah sebuah keharusan. Dengan harapan proses belajar mengajar akan berjalan menyenakngkan dan tidak membosankan. Dibawah ini metode pembelajaran yang sering digunakan antara lain :

II.i.1. Metode Debat

Metode debat merupakan salah satu metode pembelajaran yang sangat penting untuk meningkatkan kemampuan akademik siswa. Materi ajar dipilih dan disusun menjadi paket pro dan kontra.Siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat orang.Di dalam kelompoknya, siswa (dua orang mengambil posisi pro dan dua orang lainnya dalam posisi kontra) melakukan perdebatan tentang topik yang ditugaskan.Laporan masing-masing kelompok yang menyangkut kedua posisi pro dan kontra diberikan kepada guru.Selanjutnya guru dapat mengevaluasi setiap siswa tentang penguasaan materi yang meliputi kedua posisi tersebut dan mengevaluasi seberapa efektif siswa terlibat dalam prosedur debat.

Pada dasarnya, agar semua model berhasil seperti yang diharapkan pembelajaran kooperatif, setiap model harus melibatkan materi ajar yang memungkinkan siswa saling membantu dan mendukung ketika mereka belajar materi dan bekerja saling tergantung (interdependen) untuk menyelesaikan tugas.Ketrampilan sosial yang dibutuhkan dalam usaha berkolaborasi harus dipandang penting dalam keberhasilan menyelesaikan tugas kelompok. Ketrampilan ini dapat diajarkan kepada siswa dan peran siswa dapat ditentukan untuk memfasilitasi proses kelompok. Peran tersebut mungkin bermacam-macam menurut tugas, misalnya, peran pencatat (recorder), pembuat kesimpulan (summarizer), pengatur materi (material manager), atau fasilitator dan peran guru bisa sebagai pemonitor proses belajar.

II.i.2. Metode Jigsaw

Pada dasarnya, dalam model ini guru membagi satuan informasi yang besar menjadi komponen-komponen lebih kecil.Selanjutnya guru membagi siswa ke dalam kelompok belajar kooperatif yang terdiri dari empat orang siswa sehingga setiap anggota bertanggungjawab terhadap penguasaan setiap komponen/subtopik yang ditugaskan guru dengan sebaik-baiknya. Siswa dari masing-masing kelompok yang bertanggungjawab terhadap subtopik yang sama membentuk kelompok lagi yang terdiri dari yang terdiri dari dua atau tiga orang.

Siswa-siswa ini bekerja sama untuk menyelesaikan tugas kooperatifnya dalam: a) belajar dan menjadi ahli dalam subtopik bagiannya; b) merencanakan bagaimana mengajarkan subtopik bagiannya kepada anggota kelompoknya semula. Setelah itu siswa tersebut kembali lagi ke kelompok masing-masing sebagai “ahli” dalam subtopiknya dan mengajarkan informasi penting dalam subtopik tersebut kepada temannya.Ahli dalam subtopik lainnya juga bertindak serupa.Sehingga seluruh siswa bertanggung jawab untuk menunjukkan penguasaannya terhadap seluruh materi yang ditugaskan oleh guru.Dengan demikian, setiap siswa dalam kelompok harus menguasai topik secara keseluruhan.

II.i.3 Metode Student Teams – Achievement Divisions (STAD)

Siswa dikelompokkan secara heterogen kemudian siswa yang pandai menjelaskan anggota lain sampai mengerti.

 

Langkah-langkah:

  1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang secara heterogen (campuran menurut prestasi, jenis kelamin, suku, dll.).
  2. Guru menyajikan pelajaran.
  3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota kelompok. Anggota yang tahu menjelaskan kepada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu mengerti.
  4. Guru memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu.
  5. Memberi evaluasi.
  6. Penutup.

Kelebihan:

a)    Seluruh siswa menjadi lebih siap.

b)   Melatih kerjasama dengan baik.

Kekurangan:

c)    Anggota kelompok semua mengalami kesulitan.

d)   Membedakan siswa.

II.i.4. Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama.

Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.

 

Adapun keunggulan metode problem solving sebagai berikut:

  1. Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.
  2. Berpikir dan bertindak kreatif.
  3. Memecahkan masalah yang dihadapi secara realistis
  4. Mengidentifikasi dan melakukan penyelidikan.
  5. Menafsirkan dan mengevaluasi hasil pengamatan.
  6. Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.
  7. Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.

Kelemahan metode problem solving sebagai berikut:

  1. Beberapa pokok bahasan sangat sulit untuk menerapkan metode ini. Misal terbatasnya alat-alat laboratorium menyulitkan siswa untuk melihat dan mengamati serta akhirnya dapat menyimpulkan kejadian atau konsep tersebut.
  2. Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain.

II.i.5 Cooperative Script

Skrip kooperatif adalah metode belajar dimana siswa bekerja berpasangan dan secara lisan mengikhtisarkan bagian-bagian dari materi yang dipelajari. Langkah-langkah:

  1. Guru membagi siswa untuk berpasangan.
  2. Guru membagikan wacana / materi tiap siswa untuk dibaca dan membuat ringkasan.
  3. Guru dan siswa menetapkan siapa yang pertama berperan sebagai pembicara dan siapa yang berperan sebagai pendengar.
  4. Pembicara membacakan ringkasannya selengkap mungkin, dengan memasukkan ide-ide pokok dalam ringkasannya. Sementara pendengar menyimak / mengoreksi / menunjukkan ide-ide pokok yang kurang lengkap dan membantu mengingat / menghapal ide-ide pokok dengan menghubungkan materi sebelumnya atau dengan materi lainnya.
  5. Bertukar peran, semula sebagai pembicara ditukar menjadi pendengar dan sebaliknya, serta lakukan seperti di atas.
  6. Kesimpulan guru.
  7. Penutup.

Kelebihan:

  • Ø Melatih pendengaran, ketelitian / kecermatan.
  • Ø Setiap siswa mendapat peran.
  • Ø Melatih mengungkapkan kesalahan orang lain dengan lisan.

Kekurangan:

  • Ø Hanya digunakan untuk mata pelajaran tertentu
  • Ø Hanya dilakukan dua orang (tidak melibatkan seluruh kelas sehingga koreksi hanya sebatas pada dua orang tersebut).

II.i.6. Metode Inquiry

Inquiry yaitu salah satu metode pengajaran dengan cara guru menyuguhkan suatu peristiwa kepada siswa yang menimbulkan teka-teki, dan memotivasi siswa untuk mencari pemecahan masalah. Metode inquiry ditelusuri dari fakta menuju teori. Dengan harapan agar siswa terangsang untuk mencari dan meneliti, serta memecahkan masalah dengan kemampuannya sendiri. Dalam pelaksanaannya metode inquiry dapat dilakukan dengan cara guru membagi tugas meneliti suatu masalah di kelas. Siswa dibagi kedalam beberapa kelompok, dan masing-masing kelompok mendapat tugas tertentu yang harus diselesaikan. Kemudian tugas itu mereka pelajari, mereka teliti, serta dibahas bersama-sama dalam kelompoknya. Setelah dibahas, dan didiskusikan, kemudian masing-masing kelompok itu membuat laporan hasil kerja, dengan cara sistematis dan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Inquiry juga dapat berjalan dengan cara sebagai berikut guru menunjukkan sesuatu benda/barang, atau buku yang masih asing bagi siswa didepan kelas. Kemudian semua siswa disuruh mengamati, meraba, melihat dan membaca dengan seluruh alat indera secara cermat. Lalu guru memberikan masalah, atau pertanyaan kepada seluruh siswa, yang sudah siap dengan jawaban atau pendapat. Dalam hal ini masalah yang diajukan kepada siswa itu tidak boleh menyimpang dari garis pelajaran yang telah diberikan/direncanakan tersebut, metode ini setingkat lebih maju dari problem solving, karena permasalahannya bersifat penelitian (research).
Keunggulan metode inquiry :

  1. Mendorong siswa berpikir secara ilmiah dalam setai pemecahan masalah yang dihadapi.
  2. Membantu dalam menggunakan ingatan, dan transfer pengetahuan pada situasi proses pengajaran.
  3. Mendorong siswa untuk berfikir kreatif dan intuitif, dan bekerja atas dasar inisiatif sendiri.
  4. Menumbuhkan sikap obyektif, jujur dan terbuka.
  5. Situasi proses belajar mengajar menjadi hidup dan dinamis.

Kekurangan metode inquiry :

  1. Memerlukan perencanaan yang teratur dan matang. Bagi guru yang terbiasa dengan cara tradisional, merupakan beban yang memberatkan.
  2.  Pelaksanaan pengajaran melalui metode ini, dapat memakan watu yang cukup panjang. Apalagi proses pemecahan masalah itu memerlukan pembuktian secara ilmiah.
  3. Proses jalannya inquiry akan menjadi terhambat, apabila siswa telah terbiasa cara belajar “nrimo” tanpa kritik dan pasif apa yang diberikan oleh gurunya.
  4. Tidak semua materi pelajaran mengandung masalah. Akan tetapi justru memerlukan pengulangan dan penanaman nilai. Misalnya pada pengajaran agama, mengenai keimanan, ibadah dan akhlak.
  5. Metode inquiry ini baru dilaksanakan pada tingkat SLTA, Perguruan Tingi. Dan untuk tingkat SLTP dan tingkat SD masih sulit dilaksanakan. Sebab pada tingkat tersbeut anak didik belum mampu berpikir secara ilmiah, merupakan ciri dari metode inquiry.

Hal-hal yang dapat mempertinggi teknik inquiry :
Agar teknik inquiry dapat dilaksanakan dengan baik, memerlukan kondisi belajar sebagai berikut :

  1. Menciptakan situasi kondisi yang fleksibel (tidak terlalu kaku) dalam interaksi belajar, dan siswa belajar dari perasaan takut dan tekanan.
  2. Kondisi lingkungan yang dapat memancing gairah intelektual, dan semangat belajar yang tinggi.
  3. Guru mampu menciptakan situasi belajar yang kondusif dan responsif.

II.ii. Metode-Metode Pengajaran Matematika

Dalam proses belajar mengajar disekolah khususnya dan lembaga-lembaga pendidikan umumnya terdapat banyak sekali metode yang dapat digunakan dalam pembelajaran baik pelajaran matematika maupun pelajaran lainnya, sehingga tujuan pembelajaran yang ditetapkan dapat tercapai.

Berikut metode yang sering digunakan dalam pembelajaran matematika :

  1. Metode Penemuan

Metode penemuan adalah suatu cara untuk menyampaikan ide/gagasan lewat proses menemukan dimana siswa menemukan sendiri pola-pola melalui sederetan pengalaman belajar yang lampau. Metode penemuan merupakan metode yang penting dalam proses belajar mengajar matematika, walaupun ruang lingkup aplikasinya mempunyai batas-batas tertentu. Hal ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Praktiknyo Prawironogoro dalam Buku Metode-Metode Mengajar yaitu

“….bentuk discoveri dalam pengajaran matematika sangat penting, hal ini tidak hanya digunakan untuk pelajaran yang baru diajarkan, tetapi dapat digunakan kembali untuk pelajaran ulangan dan pemahaman”.

Di dalam metode penemuan ini siswa dipacu untuk lebih aktif belajar karena siswa harus menemukan sendiri pola-pola dan struktur matematika melalui pengalaman belajar yang lampau, demikian pula dalam pelaksanaannya siswa ditolong oleh guru dalam memecahkan masalah selangkah demi selangkah, dimana guru memberikan petunjuk atau intruksi kepada siswa apabila mereka belum mampu menemukan ide atau gagasan yang dimaksud.

Menurut Herman Hudoyo tujuan pengajaran matematika dengan menggunakan metode penemuan antara lain :

  1. Agar siswa kelak kemudian harus tabah menghadapi berbagai persoalan dan berusaha menghadapi kesulitan-kesulitan yang dihadapinya.
  2. Agar siswa terlibat aktif dalam menemukan pola dan struktur matematika
  3. Agar siswa dapat memahami konsep dan teorema lebih baik dan mampu mengaplikasikannya dalam kehidupan.
  4. Agar siswa bergairah dalam mempelajari matematika.

Selanjutnya Hudoyo mengatakan bahwa metode pengajaran mempunyai kelebihan dan kekurangan, demikian juga halnya dengan metode penemuan ini. Adapun kelebihan dan kekurangan metode penemuan sebagai berikut : Kelebihannya :

  1. Dapat melatih ketrampilan siswa mengamati sesuatu cara memecahkan persoalan dan melatih siswa secara teratur terlibat dalam bimbingan penemuan.
  2. Siswa benar-benar dapat memahami suatu konsep atau rumus karena mereka mengalami sendiri proses untuk mendapatkan rumus.
  3. Siswa akan memahami konsep dan teorema lebih baik, ingat lebih lama dan aktif dalam proses belajar mengajar.
  4. Metode ini memungkinkan siswa mengembangkan sifat ilmiah dan menimbulkan semangat ingin tahu dari para siswa.

Kekurangannya :

  1. Tidak semua topik matematika dapat diterapkan dalam metode penemuan.
  2. Bila jumlah siswa lebih besar akan memberatkan guru dalam memberikan bimbingan penemuan.
  3. Bagi siswa yang lamban akan mengalami frustasi karena tidak dapat menyelesaikan temuannya.
  4. Memerlukan waktu yang relatif lebih banyak.
  5. Metode Pemecahan Masalah

Metode ini sangat tepat digunakan dalam proses belajar mengajar matematika, seperti yang dikatakan oleh P Manulu dalam bukunya yang berjudul Strategi Mengajar dengan Pemecahan Masalah bahwa :

Pemecahan masalah yang bersifat matematika dapat menolong siswa meningkatkan daya analisis dan dapat membantu mereka dalam pemakaian daya ini pada berbagai situasi. Pemecahan masalah juga dapat menolong siswa dalam mempelajari fakta, ketrampilan, konsep dan prinsip matematika.

Adapun kelebihan dan kekurangan metode pemecahan masalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Kelebihannya :
  • Ø Dengan metode ini potensi intelektual dari dalam diri siswa akan meningkat.
  • Ø Dengan meningkatkan potensi intelektual dari dalam diri siswa maka akan menimbulkan motivasi intern bagi siswa.
  • Ø Dengan menggunakan metode ini menyebabkan materi yang telah dipelajari akan tahan lama.
  1. Kekurangannya :
  • Ø Bagi siswa yang sangat kurang pemahaman dasar matematika maka pengajaran dengan metode ini akan sangat membosankan dan menghilangkan semangat belajarnya.
  • Ø Bila guru tidak berhati-hati dalam memilih soal pemecahan masalah akan berubah fungsinya menjadi latihan, apabila tanpa memahami konsep yang dikandung soal-soal tersebut.
  1. Metode Laboratorium

Metode laboratorium adalah suatu metode dimana siswa berusaha menemukan problema-problema dan fakta-fakta matematika. Pada prinsipnya metode laboratorium dilaksanakan oleh siswa sambil bermain, mengobservasi dan bekerja mulai dari konkrit ke abstrak, hasil permainan tersebut memungkinkan  siswa menemukan konsep-konsep atau generalisasi di dalam matematika. Untuk lebih jelasnya E.T. Russeffendi menjelaskan dalam buku Dasar-Dasar Matematika Modern untuk Guru sebagai berikut : “Mengajar dengan metode laboratorium adalah mengajar yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk memahami suatu objek langsung matematika dengan jalan mengkaji, menganalisa, menemukan secara induktif melalui inkuiri, merumuskan dan mengetes hipotesa dan membuat kesimpulan dari benda-benda konkrit atau modelnya dan dilakukan di laboratorium matematika”.

Kelebihannya :

  • Ø Memungkinkan siswa bekerja bebas tanpa tergantung pada orang lain sehingga membantu pertumbuhan siswa.
  • Ø Konsep atau generalisasi matematika berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip psikologis yaitu dari yang konkrit kepada yang abstrak.
  • Pengertian akan didapat oleh siswa atas dasar hasil kerjanya sendiri.

Kekurangannya :

  • Ø Memerlukan waktu yang relatif lama.
  • Ø Menyebabkan proses belajar mengajar menjadi lambat.
  • Ø Tidak semua topik matematika dapat diajarkan dengan metode tersebut.
  • Ø Kecendrungan para siswa untuk saling menyontoh.
  • Ø Metode ini hanya cocok digunakan untuk kelas rendah.
  1. Metode Diskusi

Pada prinsipnya metode ini akan mendorong siswa berpikir sistematis dengan menghadapkannya kepada masalah-masalah yang akan dipecahkan. Agar diskusi dapat berjalan dengan baik, maka guru harus memperhatikan beberapa syarat. Adapun syarat-syarat tersebut seperti dikemukakan oleh Winarno Surachmat dalam buku Metode Pengajaran Nasional, yaitu :

  1. Menarik minat siswa sesuai dengan tarafnya.
  2. Mempunyai kemungkinan-kemungkinan jawaban lebih dari sebuah untuk dapat dipertahankan. Pada umunya tidak menerangkan manakah jawaban yang benar, tetapi lebih mengutamakan hal yang mempertimbangkan dan membandingkan.

Metode diskusi ini pada umumnya akan membuat suasana kelas lebih hidup, karena siswa lebih aktif dan bersemangat dimana setiap siswa (kelompok) mendapat kesempatan untuk mengemukakan pendapat mereka masing-masing. Jadi metode diskusi ini merupakan proses belajar mengajar yang menyebabkan terjadinya interaksi antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru.

Metode diskusi mempunyai tujuan antara lain :

  • Menanamkan dan mengembangkan keberanian untuk mengemukakan pendapat sendiri.
  • Mencari kebenaran secara jujur melalui pertimbangan pendapat yang mungkin saja berbeda antara satu dengan lainnya.
  • Belajar menemukan kesepakatan pendapat melalui musyawarah.
  • Memberikan kehidupan kelas yang lebih mendekati kegiatan hidup yang sebenarnya.

a)    Kelebihannya :

  • § Siswa terlibat aktif dalam proses belajar mengajar.
  • § Siswa memperoleh kebebasan mengeluarkan pendapatnya sendiri, yang pada akhirnya akan melatih siswa untuk berani mengeluarkan pendapat.

b)   Kekurangannya :

  • § Akan didominasi oleh siswa yang pandai sedangkan siswa yang kurang pandai akan menjadi pasif sehingga bertindak sebagai pendengar saja.
  • § Jika anggota kelompok tidak ada yang pandai, maka kelompok tersebut menjadi pasif, dengan demikian proses belajar mengajar tidak efisien.
  • § Memerlukan waktu yang banyak.
  1. Metode Ceramah

Metode ceramah adalah suatu cara penyampaian atau penyajian bahan pelajaran dimana hanya dipergunakan suara oleh pengajar di kelas. Dalam metode ceramah ini guru memegang peranan utama, jadi jarang sekali digunakan dalam matematika karena sifatnya yang didominasi oleh guru.

Agar metode ceramah ini dapat mencapai hasil yang baik, maka setiap guru yang menggunakan metode tersebut harus memperhatikan beberapa langkah agar memperoleh hasil yang baik, langkah-langkah tersebut ditemukan oleh W. James Pophan dan Evi Baker antara lain :

  • Menyelidiki apakah metode ceramah cocok untuk digunakan.
  • Merumuskan tujuan bahan pengajaran.
  • Menetapkan bagian-bagian pelajaran yang akan dijelaskan.
  • Mengarahkan perhatian siswa pada pokok masalah yang diceramahkan.
  • Menanamkan pengertian yang jelas.
  • Mengadakan evaluasi untuk mengetahui apakah tujuan-tujuan khusus telah tercapai.

Kelebihannya :

  1. Isi silabus dapat diselesaikan menurut jadwal.
  2. Guru dapat menguasai seluruh kelas.
  3. Semua siswa mempunyai kesempatan yang sama di dalam pendengarannya.
  4. Konsep atau keterangan yang disampaikan guru dapat berurut.

Kekurangannya :

  1. Materi yang diceramahkan mudah dilupakan oleh siswa, karena berada dalam belajar matematika lebih mengutamakan proses berpikir siswa.
  2.  Siswa menjadi pasif karena mereka tidak mempunyai kesempatan untuk menemukan sendiri.
  3. Pada umunya siswa memahami masalah secara vertikal.
  4. Guru tidak mengetahui sampai di mana siswa dapat mengerti atau menguasai apa yang telah diberikan, karena tidak mengetahui kesukaran yang dihadapi siswa.
  5. Menimbulkan rasa bosan pada siswa sebab tidak membangkitkan gairah dan rasa tertarik dari siswa
    1. Metode Pemberian Tugas

Metode pemberian tugas adalah suatu cara mengajar di mana guru merencanakan/memberikan suatu soal, problem atau kegiatan yang harus diselesaikan siswa dalam jangka waktu tertentu. Dalam matematika metode ini merupakan salah satu metode yang dirasakan sangat bermanfaat, karena pemberian tugas kepada siswa akan menguatkan tentang apa-apa yang telah dipelajari dalam pelajaran matematika.

Beberapa faktor yang mempengaruhi metode ini antara lain siswa, guru, fasilitas pengajaran dan bahan (tugas) yang akan diberikan. Pemberian tugas ini biasanya dilaksanakan setelah bahan-bahan pokok diberikan. Dengan pemberian tugas ini diharapkan siswa dapat menyelesaikan tugas (bahan) pelajaran yang telah diberikan dengan baik dan benar. Menurut Team Didaktik Metodik Kurikulum IKIP Surabaya menyatakan bahwa : “Pemberian tugas biasanya dilaksanakan setelah bahan pelajaran diberikan, yang bertujuan supaya siswa belajar melaksanakan tugas sesuai dengan tujuan dan petunjuk-petunjuk guru kemudian siswa membuktikan hasil belajarnya.

Ada beberapa tujuan metode pemberian tugas diantaranya :

  1. Membimbing siswa untuk mempersiapkan diri mengenai bahan pelajaran yang telah atau akan diberikan.
  2. Mendidik atau memperluas bahan pelajaran karena keterbatasan waktu yang dapat diberikan di kelas.
  3. Mendidik siswa agar mengerjakan suatu tugas dengan sebaik- baiknya dengan penuh tanggung jawab.
  4. Mengembangkan inteligensi dan kecakapan siswa secara individu.

Kelebihannya :

  1. Dapat meningkatkan frekuensi belajar siswa dengan tidak nenyita waktu belajar di sekolah/jam pelajaran.
  2. Mendidik siswa untuk belajar sendiri.
  3. Membina rasa tanggung jawab.
  4. Melatih anak kepada norma-norma disiplin.
  5. Memperluas dan memperkaya pengalaman belajar serta ketrampilan.

 

Kelemahannya :

  1. Guru tidak dapat mengatasi langsung pelaksanaan tugas ini sehingga kemungkinan siswa akan menyontek kepada temannya.
  2. Jika semua pelajaran diberikan tugas maka tugas siswa menjadi bertumpuk, hal ini menyebabkan kebosanan dan kesukaran siswa dalam membagi waktu untuk mengerjakan semua tugas yang dibebankan guru terhadapnya.
  3. Siswa tidak mampu mengerjakan tugasnya akan berusaha menghindari pelajaran tersebut dengan berbagai alasan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

SIMPULAN DAN SARAN

III.i. Simpulan

Pendekatan Pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum

Strategi Pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Metode Pembelajaran dapat diartikan sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Teknik Pembelajaran dapat diatikan sebagai cara yang dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik.

Taktik Pembelajaran merupakan gaya seseorang dalam melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.

Model Pembelajaran pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.

Metode Pembelajaran efektif yang sering digunakan antara lain :

  • Ø Metode Debat
  • Ø Metode Jigsaw
  • Ø Model Student Teams – Achievement Divisions (STAD)
  • Ø Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
  • Ø Cooperative Script

Dari pembahasan diatas dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :

  1. Penggunaan metode yang tepat akan mempermudah siswa dalam menguasai suatu materi sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai.
  2. Peranan guru dalam memilih, menguasai dan menggunakan metode mengajar sangat besar pengaruhnya untuk menghindari kebosanan siswa dalam mempelajari matematika.
  3. Penggunakan metode pemecahan masalah, penemuan dan metode diskusi membuat siswa lebih aktif dalam belajar

III.ii. Saran

  1. Diharapkan guru mengenalkan dan melatihkan keterampilan proses dan belajar melalui berbagai model dan metode sebelum atau selama pembelajaran agar siswa mampu menemukan dan mengembangkan sendiri fakta dan konsep serta dapat menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut.
  2. Agar pembelajaran dapat berjalan dengan baik, sebaiknya guru membuat perencanaan pembelajaran, dan menentukan semua konsep-konsep yang akan dikembangkan, dan untuk setiap konsep ditentukan metode atau pendekatan yang akan digunakan serta keterampilan proses yang akan dikembangkan.
  3. Dalam rangka mempermudah penguasaan materi oleh para siswa, guru diharapkan dapat menggunakan metode yang tepat dalam pengajaran matematika, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai.
  4. Untuk menghindari kebosanan siswa dalam mempelajari matematika, guru diharapkan dapat memilih, menguasai dan menggunakan metode pengajaran yang tepat terhadap suatu materi.
  5. Guru diharapkan menggunakan metode pemecahan masalah, penemuan dan metode diskusi dalam pengajaran matematika, sehingga membuat siswa lebih aktif.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

Demikianlah makalah yang dapat kami susun, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Untuk itu saran dan kritik yang konstruktif sangat penulis harapkan untuk perkembangan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Ismail. 2003. Media Pembelajaran (Model-model Pembelajaran). Jakarta: Proyek Peningkatan Mutu SLTP.

Senjaya,Wina. 2008. Strategi Pembelajaran; Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Supriawan, Dedi dan A. Benyamin Surasega.1990. Strategi Belajar Mengajar .Bandung: FPTK-IKIP Bandung.

Syamsuddin Makmun, Abin. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Remaja.

Tim PPPG Matematika. 2003. Beberapa Teknik, Model dan Strategi Dalam
Pembelajaran Matematika. Bahan Ajar Diklat di PPPG Matematika
. Yogyakarta: PPPG Matematika.

Wardhani, Sri . 2006. Contoh Silabus dan RPP Matematika SMP. Yogyakarta: PPPG Matematika.

Widowati, Budijastuti. 2001. Pembelajaran Kooperatif.Surabaya : Universitas Negeri Surabaya.

Winataputra. 2003. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>